informasiobat.com

MENGENAL SELUK BELUK KONTRASEPSI

Kategori Edukasi - dipublish oleh Administrator tanggal 26/07/2013 - pengunjung 468

Kontrasepsi adalah upaya mencegah pembuahan atau kehamilan yang bersifat sementara atau menetap. Kontrasepsi terjadi dengan mencegah masuknya sperma ke vagina, mencegah perkembangan folikular, mencegah pematangan telur dalam endometrium, membatasi atau menghindari hubungan seksual pada masa subur. Kontrasepsi yang ideal harus efektif, aman, mudah digunakan, murah, reversibel, dan dapat diterima dengan baik. Beberapa metode kontrasepsi mendekati ideal, tetapi tidak ada yang mencapai ideal. Kontrasepsi dapat dilakukan menggunakan alat, secara mekanis, menggunakan obat atau dengan operasi.  Kunci sukses penggunaan kontrasepsi adalah motivasi, jika pasangan suami istri benar-benar ingin mencegah kehamilan, hampir semua penggunaan kontrasepsi yang baik akan berhasil. Pemilihan jenis kontrasepsi sesuai dengan  tujuan yang diinginkan, yaitu:

  1. Menunda kehamilan

pasangan dengan istri berusia di bawah 20 tahun dianjurkan menunda kehamilannya.

  • Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan
    • Reversibilitas yang tinggi karena akseptor belum mempunyai anak.
    • Efektivitas yang relatif tinggi, karena dapat menyebabkan kehamilan resiko tinggi.
  • Kontrasepsi yang sesuai, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), pil.
  • Alasan
    • Usia di bawah 20 adalah usia yang sebaiknya tidak mempunyai anak.
    • Prioritas penggunaan kontrasepsi pil oral karena peserta masih muda.
    • Penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda masih sering berhubungan.
    • Penggunaan AKDR mini bagi yang belum mempunyai anak dapat dianjurkan, terutama bagi akseptor dengan kontra indikasi terhadap pil oral.
  1. Menjarangkan kehamilan

Masa saat istri berusia 20-30 tahun adalah yang paling baik untuk melahirkan 2 anak dengan jarak kelahiran dengan 3-4 tahun.

  • Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan
    • Reversibilitas cukup tinggi
    • Efektivitas cukup tinggi karena akseptor masih mengharapkan mempunyai anak.
    • Dapat dipakai 2-4 tahun.
    • Tidak menghambat produksi ASI
  • Kontrasepsi yang sesuai, AKDR, pil, suntik, cara sederhana, susuk KB, kontrasepsi mantap.
  • Alasan
    • Usia 20-30 tahun merupakan usia terbaik untuk mengandung dan melahirkan.
    • Segera setelah anak lahir, dianjurkan untuk menggunakan AKDR sebagai pilihan utama.
    • Kegagalan yang menyebabkaan kehamilan cukup tinggi namun tidak berbahaya karena akseptor berada pada usia yang baik untuk mengandung dan melahirkan.
  1. Mengakhiri kesuburan

Saat usia istri di atas 30 tahun, dianjurkan untuk mengakhiri kesuburan setelah mempunyai 2 anak.

  • Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan.
    • Efektivitas sangat tinggi karena kegagalan dapat menyebabkan kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak.
    • Reversibilitas rendah.
    • Dapat dipakai untuk jangka panjang.
    • Tidak menambah kelainan yang sudah ada.
  • Kontrasepsi yang sesuai, kontrasepsi mantap, susuk KB, AKDR suntikan, pil dan cara sederhana.
  • Alasan
    • Ibu di atas 30 tahun dianjurkan tidak hamil lagi atau punya anak lagi karena alasan medis.
    • Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap.
    • Pada kondisi darurat, kontrasepsi mantap cocok dipakai dan relatif lebih baik dibandingkan dengan susuk KB atau AKDR.
    • Pil kurang dianjutkan karena usia ibu relatif tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya efek samping dan komplikasi.

 

 

METODA KONTRASEPSI

Metode kontrasepsi yang tidak memerlukan resep termasuk koitus interruptus, koitus reservatus, kondom, krim, jelli, aerosol, tablet buih dan suppositoria vagina. Farmasis  harus menganjurkan kepada pasien untuk berkonsultasi kepada dokter atau pelayanan keluarga berencana sebelum memilih metoda kontrasepsi yang tepat.

 

Kondom

Metode kontrasepsi yang digunakan pria membutuhkan perhatian. Metode yang biasa digunakan di seluruh dunia adalah koitus interruptus dan penggunaan kondom.

Kondom adalah selaput karet yang dipasang pada penis selama huibungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintesis tipis, berbentuk silindris, dengan muaranya berpinngir tebal, bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti putting susu. Kondom juga membantu mencegah penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk AIDS. Kondom sangat mudah digunakan, tidak berbahaya, murah, mudah dibeli, dan tidak memerlukan kegiatan fisik memakainya. Prinsip penggunaan kondom sangat mudah dimengerti yaitu sperma akan terkumpul di dalam kondom tidak sampai ke vagina.

Walaupun kondom dapat mencegah kehamilan, tapi kecelakaan bisa saja terjadi. Oleh karena itu kondom harus diperiksa terlebih dahulu sebelum digunakan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, dapat diikuti beberapa instruksi penggunaan kondom yaitu :

  • Kondom digunakan pada penis yang ereksi sebelum penis masuk ke vagina.
  • Jika kondom tidak ada penampung di ujungnya, sisakan 1-2 cm di ujung kondom untuk menampung ejakulat.
  • Lepaskan kondom sebelum penis selesai ereksi, pegang kondom pada pangkalnya dengan jari untuk mencegah sperma tumpah atau merembes.
  • Tiap kondom hanya untuk sekali pakai, setelah itu langsung dibuang.
  • Jangan menyimpan kondom di tempat panas, serta jangan memakai minyak goreng, baby oil atau jelly untuk melicinkan kondom karena akan menyebabkan kerusakan kondom.

 

PREPARAT SPERMATISID PADA VAGINA

Preparat spermatisid pada vagina terdiri dari 2 komponen yaitu zat kimia yang mampu mematikan sperma dan venikulum yang dipakai untuk membuat tablet, krim atau jelly. Preparat  spermatisid pada vagina dipakai pada vagina untuk menginaktifkan sperma sebelum melewati serviks karena mengandung bahan yang akan merusak membran sel sperma dan mempengaruhi mobilitas dan kemampuan sperma membuahi ovum. Preparat  spermatisid pada vagina digunakan sebelum melakukan hubungan seksual.

Preparat spermatisid pada vagina (vagina spermicidal) tidak sama dengan dengan preparat yang penggunaanya dengan cara diafragma. Bahan kimia spermatisid adalah polioksi etilen alkilfenol (surfaktan non ionik) selain itu juga digunakan asam borat, asam fenil – raksa dan asam ricinolik. Beberapa produk diformulasi untuk menciptakan pH asam di dalam vagina. pH dibawah 3,5 efektif untuk membunuh sperma  dimana dengan penurunan pH akan meningkatkan kemanjurannya.

 Spermatisid ini  harus menyisip tidak lebih dari 1 jam sebaiknya 10 – 30 menit sebelum berhubungan. Dimana pemakaian spermatisid hanya cukup untuk satu kali berhubungan, untuk selanjutnya harus diulangi dan dosisnya dilebihkan. Spermatisid pada vagina kurang efektif mencegah kehamilan dibandingkan dengan penggunaan diafragma dan krim namun penggunaan bersama akan lebih baik. Adapun keuntungan bentuk busa, krim atau jelli yakni pengunaanya lebih mudah dan terhindar dari uji pengobatan dan resep.

Peranan seorang farmasis yakni bila terjadi reaksi efek samping dimana dalam beberapa kasus menunjukan bahan kimia kontrasepsi dapat menyebabkan iritasi lokal maka farmasis harus menasehati pasien untuk tidak melanjutkan, menukar produk dan pergi ke dokter.Kalau pasien lebih menyukai tidak pergi ke dokter maka seorang farmasis harus merekomendasikan untuk memakai produk lain dengan formula yang berbeda.

Busa aerosol

Pengunaaan kontrasepsi dengan penyebaran busa dari krim spermatisid pada vagina dengan bantuan aerosol. Busa akan menutupi daerah servik. Busa harus masuk dan tersedia kurang dari 1 jam sebelum berhubungan seksual dan tersisa pada vagina untuk 8 jam setelah berhubungan seksual. Pemakainnya harus dilakukan setiap akan berhubungan seksual.

Pemakaian busa ini dapat menimbulkan iritasi pada vagina dan penis namun jarang terjadi. Kalau terjadi harus dihentikan pemakaiannya dan cara tipe kontrasepsi lainnya. Busa vagina merupakan salah satu metode kontrasepsi yang paling efektif (pengggunaan   diafragma bersama dengan busa meningkatkan kemanjuran ). Dalam suatu penelitian busa yang digunakan oleh lebih kurang 3000 wanita untuk rata rata 28 siklus dengan laju kehamilan 3.98 /100 wanita pertahun, ini merupakan laju terendah untuk kontrasepsi vagina. Kemanjuran produk ini dipengaruhi juga oleh nasehat yang diberikan pada pasien dan keinginan untuk berkonsultasi pasien dengan staf medik.

 

Suppositoria dan tablet

 

A. Suppositoria

Ada 2 jenis suppositoria yakni suppositoria yang berisi komponen raksa atau nonoksinol-9 atau polietilen glikol base yang bersifat anti sperma dengan mekanisme kerjanya:setelah dimasukan kedalam vagina ditunggu lebih kurang 20 menit sebelum berhubungan untuk proses peleburan dan pendistribusian diatas servik. Suppositoria lain yakni berisikan nonoksinol-9 yang dalam air merupakan larutan basa yang membuih untuk membantu proses dispersinya dengan waktu menunggu hanya 10 menit dan perlindungan sampai 2 jam.

 

B. Tablet busa

Tablet busa akan berintegrasi dan melepaskan CO2 sewaktu kontak dengan air vagina dan akan terbentuk busa yang menutupi uterus sebagai penghambat sperma. Pemakainnya dengan cara tablet dimasukan kedalam vagina mendekati servik 5 menit – 1 jam sebelum berhubungan dan pemakaiannya harus diulangi untuk tiap kali berhubungan Untuk penyimpanannya harus dilakukan ditempat kering, sejuk dan batas waktu penyimpananya 6 bulan.

Bentuk perlindungan yang diberikan suppositoria dan tablet busa kurang dari yang berbentuk busa, krim atau jelli.

 

Spon

Spon digunakan sebagai barier kelompok tipe kontrasepsi. Spon dengan ketebalan 1,2-1,9 cm dan diameter 5-7,5 cm dengan berlindungan benang retrieval. Untuk perlindunagn yang lebih besar, kedua sisinya dilindung kelompok kontrasepsi untuk pemasukan lebih dalam pada vagina.

 

Penyemprotan (Dounce)

Proses membanjir dan mengalir derasnya (air saja atau kelompok spermatisid) ke vagina  langsung setelah berhubungan untuk pencucian sperma pada usia tua pada vagina sebelum sperma masuk servik untuk menghindari proses kehamilan. Dimana sperma mencapai servik  90 detik setelah ejakulasi.Test langsung setelah berhubungan diperlihatkan spermatozoa yang aktif dalam endoservik selama 1,5-3 menit setelah berhubungan dan sperma mencapai tabung faloppi 30 menit setelah pembuahan. Disinilah titik permasalahannya. Kontrasepsi bentuk busa vagina atau krim menjadi pilihan yang baik untuk pemilihan kontrasepai non resep untuk ketidak perlindungan berhubungan. Dari FDA Obstetrics and Gynecology Advisory Committee  telah mempelajari penyemprotan vagina ternyata lebih banyak digunakan untuk tujuan ilmu kesehatan, tidak untuk kontrasepsi.

 

Potensial toksik

Efek toksik dari preparat vagina spermicidal kalau penyerapan dalam bentuk murninya namun hanya dalam persentase kecil. Tanda dan gejala toksik tergantung pada jumlah yang diserap. Preparat kontrasepsi harus dijaga dari jangkauan anak anak

 

Metode non formula

Irama

Metode Irama adalah penahanan nafsu dari berhubungan seksual pada siklus subur pada wanita. Irama kurang efektif  tetapi dipakai oleh beberapa pasangan khususnya untuk wanita yang siklus menstruasinya teratur.

Ada beberapa teknik dalam penentuan ovulasi

  1. Metode kalender (Ogino-Knaus)

Memperkirakan ovulasi berdasarkan masa menstruasi wanita. Secara teori hindari berhubungan untuk 2 hari dari ovulasi yakni sehari dari ovulasi dan sehari setelah ovulasi,namun konsep ini tidak terjadi. 4 hari dibutuhkan untuk fase fertile (fase aman) dari siklus menstruasi; hari intermenstruasi sebelum dan sesudah fase infertil (fase tidak aman)

  1. Metode panas

Ketika ovulasi dimulai, tempertur tubuh wanita turun, kemudian diikuti dengan kenaikan sekitar 0,5° F (0,28°C) diatas 24 – 72 jam. Setelah 2 hari suhu meningkat periode aman dimulai. Perubahan suhu dan kecermatan pencatatan grafik 1 tahun siklus menstruasi menjadi dasar untuk penentuan ovulasi dan metode irama. Untuk tambahan keamanan berhubungan dihindari 5 hari sebelum dan sesudah periode aman.

Termometer yang digunakan dalam catatan 96- 100°F (35,6 –37,8°C) dengan interval 0,1°C yang dapat mengkuti dari perubahan kecil dalam suhu tubuh. Sangat akurat penerimaanya dari catatan rektal pengambilan langsung 5 menit pada keadaan terbangun sebelum keluar dari ranjang. Grafik untuk mencatat temperatur tubuh selam siklus menstruasi berjalan

  1. Metode serviks mucus

Dalam metode ini dilakukan penilaian lender serviks. Sifat cairan vagina bervariasi selama siklus haid. Lender di vagina diperiksa dengan cara memasukkan jari tangan pasien sendiri ke dalam vagina dan mencatat bagaimana lender tersebut di catat sendiri setiap hari.

 

 

Coitus Interruptus atau Withdrawal

Coitus interruptus  melibatkan pemindahan dari penis dirangsang oleh vagina dan area  eksternal genetalia sebelum ejakulasi. Coitus reservatus berbeda dengan coitus interruptus dalam penetrasi tempat dalam cara normal, tetapi hindari ejakulasi dan penis tertinggal di vagina sampai menjadi lembek. Masalah kedua metoda ini adalah sperma dalam uretral dilepaskan lebih dulu sekeresinya pada ejakuasi kemungkinan membuahi telur.

 

Kemanjuran kontrasepsi

Sebuah penelitian dari psikologi  penyebab terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan karena penyalahgunaan atau penolakan  pemakaian kontrasepsi dari itu disimpulkan banyaknya  kelahiran yang tidak logis, resmi dan tidak resmi  adanya dorongan aborsi, dan kelahiran yang logis tetapi dari kehamilan yang tidak diharapkan dalam negeri  dan diluar negeri. Kegagalan kontrasepsi dari sebuah laporan 562 wanita yang melakukan proses aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan karena kesalahan informasi dari siklus menstruasi, resiko kehamilan, ketidakcocokan penggunaan kontrasepsi, rasa takut terhadap efek samping, dan kegagalan metode. Hal ini di sebabkan karena informasi yang tidak cukup dari pasien atau miskin petunjuk dari dokter sehingga menimbulkan ketidakmengertian pada konsep dan alat kontrasepsi. Upaya untuk memperbaiki ini semua dengan pendidikan seksual yang baik disertai adanya dorongan keinginan tahuan yang besar dan membenarkan konsep yang salah.

Secara teori kemanjuran kontrasepsi diasumsikan adanya kecocokan antara  metode yang digunakan dengan instruksinya. Selain  faktor bologi kemanjuran kontrasepsi dipengaruhi oleh pilihan personal ketersediaan biaya, kekuatan,penggunaan (kententraman, frekuensi dan kecendrungan), waktu berhubungan, gangguan dalam berhubungan, pengaturan konsultasi pengobatan dan efek samping.

Diantara wanita yang tidak menggunakan metode kontrasepsi 80 % terduga hamil dalam 1 tahun. Tabel dibawah ini menunjukan laju kehamilan dari berbagai metode kontrasepsi (persentase data menunjukan rata rata kehamilan  untuk 100 wanita selama tahun pertama penggunaanya)

 

Metode                                         persentase

      Histerectomy                                      0,001

      Tubal ligation                                      0,004

      Vasektomi                                           0,15

      Kombinasi oral pil kontrasepsi            4-10

      Dosis rendah oral progesterone           5-10

      Intrauterine                                         5

      Kondom                                              10

      Diafragma dengan spermicide            17

      Coitus interruptus                               20-25

      Rhythm (kalender)                              21

     

Tes Kehamilan

Imuno assay digunakan paling luas untuk tes kehamilan.ada 2 teknis:

  1. Penghambatan hemaglutinasi dalam test tube. Hasilnya dapat diperoleh sekitar 2 jam dan metode ini dapat dilakukan sendiri dan banyak dipasarkan di Amerika.
  2. Penghambatan dari partikel getah agglutinasi pada slide. Hasilnya dapat diperoleh dalam 5 menit

Adapun isi kit dalam test tube adalah sel darah merah biri biri yang telah dikeringkan dengan absorben HCG dan keberadaan anti serum HCG untuk mencegah agglutinasi sel ketika disuspensikan dalam air. Kalau urin yang dites mengandung HCG, ketersediaan anti serum HCG maka terjadi aglutinasi sel darah merah biri biri. Urin yang dipakai untuk tes ini adalah urin pagi pertama kali dan ditambahkan dalam tube yang berisikan HCG sel darah merah dan HCG antiserum kemudian tambahkan air  dan tube disumbat dan kocok lebih kurang 10 detik. Biarkan selama 2 jam dan hindari dari getaran. Setelah 2 jam tes positf bila terbentuk warna gelap donat-bentuk cincin coklat (aglutinasi) dan tes negatif  terbentuknya penyebaran warna coklat  (tidak terjadi agglutinasi)

Tes ini sensitif terhadap HCG urin pada 23 hari atau lebih setelah ovulasi pada wanita hamil (9 hari setelah tidak datangnya  menstruasi). Kalau hasil negatif pada tes pertama dan menses tidak terjadi dalam 7 hari maka tes harus diulangi. Akurat dari hasil tes meningkat sampai 91 % pada tes kedua. Kalau tes kedua negatif maka pasien harus berkonsultasi dengan dokter.

Kesalahan pembacaan positif dapat terjadi bila ada sisa deterjen pada tempat pengumpulan urin begitu juga dengan darah atau konsentrasi protein yang tinggi dalam urin. Pembacaan negatif yang salah disebabkan karena kesalahan dalam perhitungan  waktu menses tidak terjadi, kurangnya HCG dalam urin dan gangguan dalam periode tunggu selama 2 jam tersebut.

 

Keluarga berencana atau kontrasepsi

Farmasis merupakan salah satu sarana penyebaran informasi  tentang keluarga berencana  dan kontrol kelahiran disini dituntut farmasis harus lebih banyak mempelajari literatur dan sanggup menjawab pertanyaan pasien. Tabel dibawah menunjukan masih kurangnya hubungan farmasis dengan pasien dalam area keluarga berencana dan kontrasepsi.

 

Frekuensi              dari farmasis laki2       dari farmasis wanita

Laki2

Sering                                21                                3

Teratur                               68                                73

Tak pernah                        11                                20

 

Wanita

Sering                                19                                35

Teratur                               71                                52

Tak pernah                        10                                13

 

Berdasarkan laporan tahun 1970 dimana 65-93 % pasien yang membeli kontrasepsi secara teratur atau tak pernah menanyakan petunjuknya. Disinilah peranan farmasis harus lebih aktif untuk konsultan informasi mengenai kontrasepsi. Lebih dari 31 wanita lebih menyukai pergi ke dokter pribadi untuk persediaan kontrasepsi, 26% diklinik, 16% difarmasis dan 6 % di rumah sakit ; 11 % tidak tahu harus pergi kemana. Berdasarkan hal tersebut dibutuhkan informasi akurat untuk dimana kontrasepsi dapat diresepkan, yang mana hanya dengan resep atau tidak dengan resep, dimana mereka  tersedia. 

Ada 2 perbedaan pandangan yang telah dikemukakan peranan farmasi dalam menerangkan kontrol kelahiran dan alat kontrasepsi. Peranan farmasis yang lebih aktif adalah konsultan kontrolkelahiran; yang lainnya keberadaan farmasis hanya lebih sedikit khususnya memberikan kemudahan keakraban dan hubungan antara dokter dan pasien.

Pekerjaan farmasis pada peranan sebagai konsultan kontrol kelahiran maka 4 dari 5 jawaban farmasis tentang pelayanan petunjuk kontrasepsi dan memberikan informasi. Kelemahan, hanya 1 % diperhatikan pada kondom pada pusat pelayanan sendiri,85 % dipersyaratkan oleh resep dokter dan 13 % yang tidak memakai kondom. Secara bermakna 58 % pemakaian busa vagina, krim dan jelli pada pusat pelayanan sendiri, 20% keinginan sendiri, 9% dipersyaratkan pada resep, dan 7% yang tidak memakai. Farmasis  akan siap memberikan pelayanan dan jam konsultasi terhadap konsumen yang membutuhkan, lebih formal, dan dikoordinasi oleh farmasis yang professional.

 

Kesimpulan 

Peranan farmasis sebagai konsultan kesehatan dalam konsep kontrol adalah penting. Farmasis dalam prakteknya dapat dan harus bergabung untuk terlibat dalam penyediaan informasi pada semua metode kontrasepsi. Pelayanan khusus dari pusat farmasis bukan pelayanan yang dipersyaratkan oleh dokter. Farmasis juga mempertimbangkan resep-hanya kontrasepsi, pengetahuan tentang kontrasepsi dan  IUD’s dan teknik bedah juga sesuatu yang penting.

Alat kontrasepsi alami individu harus dipertimbangkan dan perlakuannya dengan cara yang profesional. Untuk lebih objektif konsep metode kontrol yang ditegakkan.

Farmasis harus mewaspadai efek samping yang  teramati melalui pasien pemakai kontrasepsi oral atau menggunakan vagina spermicide dan harus langsung berkonsulatasi dengan dokter bila timbul masalah. Farmasis juga berhubungan dengan dokter pasien untuk mendiskusikan reaksi yang tidak menguntungkan.

 

Produk kontrasepsi

Spermatisid pada vagina yang digunakan tanpa sebuah diafragma

Produk

Bentuk sediaan

Anti sperma

Lainnya

Anvita

(A.O Schmidt)

Suppositoria

Fenilraksa borak,

1:2000

Asam borak,Al.kalium posfat,timol,klorotimol,

aromatik,bubuk coklat.

Because (Emko)

Busa

Nonoksinol 9, 8%

Benzetonium klorida, 0.2%

Conceptrol (Ortho)

Krim

Nonoksinol 9, 5%

Benzetonium klorida

Ramses 10 hour (Schmid)

Jelli

Dodecaetilenglikol monolaurat

-

 

Spermatisid pada vagina digunakan dengan sebuah diafragma

Produk

Bentuk sediaan

Anti sperma

Lainnya

Ortho-Crème (Ortho)

Krim

Nonoksinol 9, 2%

-

Ortho-Gynol (Ortho)

Jelli

p-diisobutilpenoksi-polietoksietanol

-

 

 

 

Komentar