informasiobat.com

DIKLOKSASILIN

NAMA GENERIK
Dikloksasilin

NAMA KIMIA
Natrium (2S,5R,6R)-6-[3-(2,6 diklofenil)-5-metil-4-isoksasolkarboksamido]-3,3-dimetil-7-okso-4-tia-1-azabisilo[3,2,0]heptana-2-karboksilat. Monohidrat (13412-64-1) (Anhidrat [343-55-5])

STRUKTUR KIMIA
C19H16Cl2N3NaO5S.H2O

KETERANGAN
Obat ini mudah larut dalam air, dan mempunyai pKa 2,7-2,8. Pada sediaan 250 mg dikloksasilin kapsul mengandung tidak kurang 0.6 mEq natrium. pH larutan 1% dalam air = 4.5-6.0.1

SIFAT FISIKOKIMIA
Dikloksasilin dalam sediaan komersial berupa dikloksasilin monohidrat garam natrium. Satu milligram dikloksasilin mengandung tidak kurang dari 850 g dikloksasilin. ;Dikloksasilin berbentuk serbuk kristal berwarna putih atau hampir putih.

SUB KELAS TERAPI
Anti Infeksi

FARMAKOLOGI
Absorbsi: 35% hingga 76%, tingkatan absorbsi dipengaruhi dan dihambat olah makanan.;Distribusi: dieksresikan hampir ke semua jaringan tubuh, dengan konsentrasi terbanyak di ginjal dan hati; rendah penetrasi dalam cairan serebrospinal; menembus plasenta; masuk dalam ASI.;Ikatan protein: 96%;T eliminasi: 0.6-0.8 jam, mengalami perpanjangan pada pasien gagal ginjal.;T max serum : 0.5-2 jam.;Eksresi: feses; urin 56-70% dalam bentuk utuh; mengalami perpanjangan waktu eksresi pada bayi.

STABILITAS PENYIMPANAN
Dikloksasilin kapsul disimpan dalam suhu dibawah 40 C, atau sekitar 15 -30C.

KONTRA INDIKASI
Kontraindikasi terhadap pasien yang hipersensitif terhadap golongan penisilin atau komponen lain dalam obat.

EFEK SAMPING
1 10% : Gastrointestinal: mual, diare, nyeri lambung.;< 1% (hilang dengan sendirinya) : Agranulositosis, eosinophilia, anemia hemolitik, hepatotosik, hipersensitivitas, interstisisal nephritis, lukopenia, neutropenia, perpanjangan waktu penjendalan darah, ;pseudomembranous collitis, ruam, penggunaan dosis tinggi, dapat menimbulkan kejang, gagal ginjal, trombositopenia, vaginitis, muntah.

INTERAKSI MAKANAN
Makanan dapat menurunkan tingkat absorbsi obat; dapat menurunkan kadar konsentrasi obat dalam serum.

INTERAKSI OBAT
Interaksi Meningkatkan efek toksik:;Disulfiram dan probenezid kemungkinan meningkatkan kadar darah dikloksasilin .;Jika digunakan bersamaan dengan methotreksat, kemungkinan akan meningkatkan efek dari metotreksat, perlu dilakukan monitoring.;Interaksi menurunkan efek:;Dikloksasilin efeknya diturunkan oleh warfarin dan antikoagulan lainnya.;Kontrasepsi oral kemungkinan juga dapat diturunkan kadarnya oleh obat ini, tetapi data masih terbatas.

PENGARUH ANAK
AAP merekomendasikan, obat ini dapat diberikan pada anak anak, tetapi tetap perlu dilakukan pemantauan.

PENGARUH HASIL LAB
Untuk pengobatan jangka panjang dapat mempengaruhi hasil pengukuran dari hati (SGPT/SGOT), ginjal (BUN,ClCr). Mempengaruhi peningkatan nilai PT (protombin time).

PENGARUH KEHAMILAN
Faktor risiko : B

PENGARUH MENYUSUI
Eksresi obat kedalam air susu ibu, sehingga jika diberikan perlu monitoring, terutama untuk mengetahui adanya reaksi hipersensitifitas pada bayi.

BENTUK SEDIAAN
Kapsul 250 mg, 500 mg.

PERINGATAN
Monitoring protombin time pada pasien yang mendapatkan pengobatan bersamaan dengan warfarin.;Hati-hati bila digunakan pada pasien yang mempunyai riwayat alergi terhadap golongan sepalosforin. ;eliminasi obat lambat pada bayi.

INFORMASI PASIEN
Untuk menghindari timbulnya resistensi, maka sebaiknya dikloksasilin digunakan dalam dosis dan rentang waktu yang telah ditetapkan.;Obat digunakan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan).;Amati jika ada timbul gejala ESO obat, seperti mual, diare atau respon hipersensitivitas.;Jika masih belum memahami tentang penggunaan obat, harap menghubungi apoteker.;Jika keadaan klinis belum ada perubahan setelah menggunakan obat, maka harap menghubungi dokter.

MEKANISME AKSI
Menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat satu atau lebih pada ikatan penisilin-protein (PBPs Protein binding penisilins), sehingga menyebabkan penghambatan pada tahapan akhir transpeptidase sintesis peptidoglikan ;dalam dinding sel bakteri, akibatnya biosintesis dinding sel terhambat, dan sel bakteri menjadi pecah (lisis).

MONITORING
Lamanya penggunaan obat;Menilai kondisi pasien sejak awal hingga akhir penggunaan obat.;Mengamati kemungkinan adanya efek anafilaksis pada pemberian dosis awal.

{BOTTOM}