informasiobat.com

VAKSIN POLIO

NAMA GENERIK
Vaksin Polio

KETERANGAN
Terdiri dari inactivated poliomyelitis vaccine (= Salk Vaccine) dan live (oral) poliomyelitis vaccine (= Sabin Vaccine).

SIFAT FISIKOKIMIA
Inactivated poliomyelitis vaccine1 : sediaan cair / suspensi berisi virus poliomyelitis tipe 1, 2 dan 3 yang sudah dilemahkan, ;dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan diinaktifkan dengan metode yang sesuai. ;Antibakteri dan pengawet boleh digunakan dalam produksi.;Live (oral) poliomyelitis vaccine : sediaan cair / suspensi berisi virus poliomyelitis tipe 1, 2 dan 3 (strain Sabin) yang sudah dilemahkan, ;dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa. ;Vaksin oral polio ini telah memenuhi persyaratan WHO (WHO-TRS : 800, 1990).;Vaksin trivalent dilakukan standardisasi virus titre per dosis : tipe 1 >= 1x 106 CCID50; tipe 2 >= 1x 105 CCID50;tipe 3 >= 1x 105.5 CCID50. Antibakteri boleh digunakan dalam produksi.

SUB KELAS TERAPI
Vaksin.

INDIKASI
Imunisasi aktif terhadap poliomyelitis.

STABILITAS PENYIMPANAN
Disimpan pada suhu 2-8C, tidak boleh dibekukan dan terlindung dari cahaya.Bila vaksin sudah dibuka dan disimpan pada suhu 2-8C, potensi bertahan selama 7 hari. Tidak boleh disimpan lebih dari 6 bulan. Jika disimpan pada suhu -20C atau lebih rendah,;maka potensi vaksin sampai masa daluwarsa sesuai yang tertera pada vial. Daluwarsa tergantung pada penyimpanan : suhu -20C, daluwarsa 2 tahun; suhu 2-8C, daluwarsa 6 bulan.

KONTRA INDIKASI
Bayi yang mengidap HIV (Human Immunodeficiency Virus) : imunisasi dilakukan berdasarkan jadwal standar tertentu pada bayi pengidap virus HIV baik yang tanpa gejala maupun dengan gejala. ;Pasien immune deficiency : tidak ada efek berbahaya yang timbul akibat pemberian pada anak yang sedang sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka dosis ulangan dapat diberikan setelah sembuh.;Individu dengan riwayat anafilaktik terhadap vaksin. Perlu diperhatikan adanya kemungkinan reaksi alergi terhadap anti-infeksi yang digunakan pada produksi OPV (Neomycin, Streptomycin).

EFEK SAMPING
Pada umumnya tidak terdapat efek samping. Efek samping berupa paralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi (kurang dari 0.17 : 1.000.000).

INTERAKSI OBAT
Obat-obat imunosupresan (antineoplastics atau therapeutic doses of corticosteroids) menurunkan respon vaksin dan disarankan untuk menunda imunisasi.;OPV dilaporkan menekan tuberculin skin sensitivity untuk sementara waktu, oleh karena itu jika diperlukan, dilakukan tuberculin tests sebelum atau secara bersamaan atau 4-6 minggu setelah pemberian vaksin.;OPV dapat diberikan bersamaan dengan vaksin campak, mumps, rubella, DTP.

PENGARUH KEHAMILAN
Meskipun belum ada penelitian yang cukup tentang efek OPV terhadap perkembangan fetus atau belum tersedia bukti-bukti mengenai efek samping OPV pada wanita hamil atau perkembangan fetus, vaksinasi selama kehamilan sebaiknya dihindari ;kecuali jika berisiko tinggi terpapar infeksi atau diperlukan proteksi yang segera terhadap poliomyelitis (misalnya melakukan perjalanan ke daerah endemi).

PENGARUH MENYUSUI
Organisme yang terdapat pada OPV melakukan multiplikasi di dalam tubuh dan beberapa mungkin ddistribusikan ke dalam ASI setelah pemberian imunisasi pada ibu menyusui. Meskipun demikian, tidak ada bukti terhadap pengaruhnya pada bayi.

BENTUK SEDIAAN
Kemasan 10 dosis dan 20 dosis, Masing-masing Dilengkapi 1 Buah Dropper

PERINGATAN
OPV harus diberikan secara oral, tidak boleh diberikan secara parenteral.;OPV tidak boleh diberikan pada pasien yang diare atau muntah, vaksin boleh diberikan setelah diarenya berhenti. Oleh karena OPV dieksresikan melalui feses sampai 6 bulan, higiene personal harus ditingkatkan. ;Vaksin poliomyelitis mungkin mengandung sejumlah kecil antibakteri seperti Neomycin, Polymyxin B dan Streptomycin. Oleh karena itu sebaiknya hati-hati digunakan pada pasien yang hipersensitif terhadap antibakteri tersebut.;OPV tidak boleh diberikan kepada pasien immunocompro-mised karena berisiko tinggi terhadap terjadinya vaccine-associated paralytic poliomyelitis.Pasien asymptomatic HIV-positive dapat diberikan OPV tetapi eksresi melalui feses lebih lama ;dibandingkan pasien yang tidak terinfeksi. Sedangkan untuk pasien symptomatic HIV-positive diberikan inactivated poliomyelitis vaccine.;Pemberian injeksi intramuskular IPV setelah OPV tidak boleh dilakukan karena berisiko tinggi terhadap terjadinya vaccine-associated paralytic poliomyelitis

MEKANISME AKSI
OPV : menstimulasi pembentukan antibodi dalam darah maupun jaringan mukosa saluran pencernaan, dengan demikian mencegah penyebaran infeksi ke sistem saraf pusat dan multiplikasi virus dalam saluran pencernaan;IPV memberikan imunitas yang sangat kecil dalam saluran pencernaan, oleh karena itu jika pasien yang mendapat imunisasi IPV terinfeksi oleh wild poliovirus, ;maka virus masih dapat berkembang biak dalam usus sehingga meningkatkan risiko transmisi lanjut. IPV tidak berisiko terhadap terjadinya vaccine-associated paralytic poliomyelitis.